Gue tahu rasanya. Jam 10 harus ketemu supplier, jam 12 ada order yang mesti dicek, sore udah janji sama klien. Di tengah semua itu, kamu masih harus wawancara calon karyawan. Rasanya kayak mau nambah satu jam lagi dalam sehari.
Tapi begini: salah rekrut itu jauh lebih mahal daripada waktu satu jam buat wawancara yang bener. Kamu bakal buang energi ngajarin orang yang ujungnya cabut, atau lebih parah, bikin tim kamu kacau. Jadi anggap wawancara ini investasi, bukan gangguan.
Artikel ini bukan buat HRD perusahaan gede yang punya berlembar-lembar formulir. Ini buat kamu, pemilik usaha kecil yang mau cepat tapi tetap nggak asal pilih.
Sebelum Wawancara: Siapin 3 Hal Saja
Jangan bikin proses yang ribet. Kamu cuma butuh tiga hal sebelum kandidat masuk ruangan.
Pertama, daftar 3 pertanyaan inti. Bukan 20. Tiga. Karena kalau kamu nanya 20 pertanyaan, kamu bakal lupa jawabannya dan kandidat juga capek. Pilih pertanyaan yang bener-bener ngegali cara kerja dia, bukan sekadar latar belakang.
Kedua, tahu persis masalah yang mau dia selesaikan. Misalnya kamu butuh orang yang bisa jaga stok gudang biar nggak sering kehabisan barang. Nah, pertanyaan kamu harus nyerempet ke situ. Bukan nanya "apa kelebihan kamu" yang jawabannya udah hafalan dari Google.
Ketiga, siapin catatan. Cuma kertas dan pulpen. Kamu nggak akan ingat detail kalau wawancara 4 orang dalam sehari. Percaya gue, jam keempat kamu bakal lupa siapa bilang apa.
Pertanyaan yang Bener-Bener Ngegali
Lupakan pertanyaan template. Coba tiga ini.
"Ceritain masalah tersulit di kerjaan sebelumnya, dan kamu ngapain?"
Dari sini kamu bisa lihat apakah dia orang yang panik atau tenang. Apakah dia nyalahin orang lain atau ngaku salah. Jawaban jujur biasanya lebih berantakan daripada jawaban yang dipoles, dan itu bagus. Kamu mau orang yang jujur, bukan yang pinter ngomong doang.
"Kalau kamu dikasih tugas yang belum pernah kamu kerjain, langkah pertama kamu apa?"
Ini pertanyaan favorit gue. Buat usaha kecil, kamu butuh orang yang bisa nyari jalan sendiri, bukan yang nunggu dikasih instruksi detail. Kandidat bagus biasanya jawab dengan cara dia nyari informasi, nanya ke siapa, atau coba-coba dulu.
"Kenapa kamu mau kerja di usaha kecil, bukan di perusahaan gede?"
Jawaban yang bagus nggak selalu "karena saya suka tantangan". Kadang orang jawab "karena di sini saya bisa lihat hasil kerja saya langsung". Itu tanda dia ngerti realita kerja di UMKM.
Ingat: kamu bukan cari orang yang sempurna. Kamu cari orang yang cocok sama kekacauan kecil usaha kamu.
Red Flag yang Wajib Kamu Perhatiin
Ada beberapa tanda yang sering gue temuin dan hampir selalu bener.
- Nyalahin semua mantan bos. Kalau semua tempat kerja sebelumnya jelek menurut dia, kemungkinan besar masalahnya di dia.
- Nggak bisa kasih contoh konkret. Kalau ditanya pengalaman, jawabannya muter-muter tanpa detail, hati-hati.
- Nanya gaji duluan sebelum nanya kerjaannya. Bukan berarti salah, tapi kalau itu satu-satunya yang dia pedulikan, kamu bakal susah.
- Ngomongin gosip kantor lama. Ini bahaya. Kalau dia bisa nyeritain keburukan orang lain ke kamu, dia bakal lakuin hal yang sama ke tim kamu.
Sebaliknya, ada green flag yang sering diabaikan. Misalnya kandidat yang nanya balik soal cara kerja tim kamu. Atau yang mau ngaku "saya belum pernah ngerjain itu, tapi saya mau belajar". Itu tanda orang yang rendah hati dan bisa berkembang.
Cara Nutup Wawancara dalam 5 Menit
Jangan buang waktu dengan basa-basi panjang. Setelah pertanyaan inti selesai, langsung ke inti.
Tanya: "Ada yang mau kamu tanyain soal kerjaan ini?" Dari pertanyaannya, kamu bisa lihat apakah dia udah riset atau cuma asal apply. Kandidat yang bagus biasanya nanya soal tim, target, atau tantangan posisi itu.
Terus jelasin timeline-nya. "Kamu bakal denger kabar dari saya dalam 3 hari." Jangan gantung orang. Kamu juga nggak suka digantung, kan?
Terakhir, catat kesan kamu dalam satu kalimat. Bukan esai. Cukup "tenang, jujur, tapi kurang inisiatif" atau "agresif, mungkin cocok buat posisi sales". Catatan singkat ini bakal nyelametin kamu waktu harus milih di antara dua kandidat yang mirip.
Kalau kamu punya waktu lebih, ajak dia ngobrol 10 menit sama satu anggota tim kamu. Kadang orang bisa manis di depan bos tapi ketauan aslinya waktu ngobrol sama calon rekan kerja. Ini trik murah yang sering kelewat.
Intinya, wawancara itu bukan ujian buat nyari orang sempurna. Kamu cuma butuh cukup informasi buat ngambil keputusan yang nggak bikin kamu nyesel tiga bulan kemudian. Tiga pertanyaan bagus, catatan singkat, dan insting yang dilatih udah cukup.
Jangan overthinking. Kamu udah jalanin usaha ini tanpa proses rekrutmen yang ribet selama ini. Sekarang tinggal dikit-dikit diperbaiki. Nggak perlu sempurna, yang penting konsisten.