Gue sering banget dapat DM atau pertanyaan di kolom komentar soal satu hal: gimana caranya tetap waras kerja di kota besar kalau di rumah masih ada anak kecil yang butuh ditemenin. Pertanyaannya variatif, tapi intinya sama. Dan anehnya, jawaban yang beredar di internet kebanyakan terlalu idealis — entah suruh "syukuri saja" atau malah nyuruh resign dan buka usaha. Duh, makasih ya.
Jadi di artikel ini gue mau jawab pertanyaan-pertanyaan yang paling sering muncul itu, satu per satu. Bukan jawaban motivasi kosong, tapi yang beneran bisa kamu pakai besok pagi waktu kamu lagi antre kopi sebelum masuk kantor.
"Kalau punya anak kecil, masih boleh nggak sih ambil kerjaan yang demanding?"
Boleh. Tapi jangan bohong sama diri sendiri soal kata "demanding" itu artinya apa buat kamu.
Baca juga: Kenapa Kamu Selalu Gugup Saat Interview Kerja? Ini Cara Mengatasinya
Gue pernah ambil kerjaan yang jam kerjanya nggak jelas. Pagi meeting, malam masih balas chat. Anak gue waktu itu umur dua tahun. Hasilnya? Gue jadi orang yang fisik ada di rumah tapi kepala nggak ada di rumah. Istri gue yang akhirnya bilang terus terang: "Kamu tuh kayak tamu, pulang cuma buat tidur." Itu nampol banget.
Baca Juga: linktsg4d.info
Yang gue pelajari: kerjaan demanding itu nggak selalu soal jam. Ada kerjaan yang jamnya panjang tapi bisa diprediksi — kamu tahu Sabtu-Minggu aman. Ada juga yang jamnya kelihatan normal tapi tiap saat bisa telepon. Buat orang tua dengan anak kecil, yang bisa diprediksi itu jauh lebih berharga daripada yang jamnya pendek tapi random.
Jadi waktu interview, tanyain hal-hal yang nggak pernah ditanya kandidat lain: "Rapat penting biasanya jam berapa?", "Kalau ada urgensi di luar jam kerja, seberapa sering kejadiannya?", "Budaya di sini soal balas chat di luar jam gimana?" Jawaban HRD yang gelagapan itu udah jawaban tersendiri.
"Interview ditanya soal komitmen, padahal aku punya anak. Bohong aja atau jujur?"
Jujur. Tapi jujur yang pintar, bukan jujur yang malah bikin kamu kelihatan nggak siap.
Banyak orang tua panik waktu ditanya "Kamu bisa komit nggak sama kerjaan ini?" karena takut dianggap bakal sering izin. Terus mereka jawab dengan janji-janji berlebihan: "Saya siap lembur kapan saja!" Padahal di dalam hati tahu itu nggak mungkin. Ini bahaya. Kamu bohong di depan pintu, kamu bakal kena masalahnya di dalam.
Yang ditanya interviewer sebenarnya bukan "kamu punya anak atau nggak", tapi "kamu bisa diandalkan atau nggak". Dua hal itu beda.
Jawaban yang gue pakai dan lumayan berhasil: akui situasinya, lalu alihkan ke sistem yang kamu punya. Contohnya begini — "Saya punya anak kecil, jadi saya kerja dengan prioritas yang jelas. Saya nggak pernah telat kirim deliverable, dan kalau ada kondisi darurat, saya selalu kasih tahu lebih dulu, bukan mendadak." Kalimat kayak gini nunjukin kamu dewasa, bukan kamu lemah.
Kalau perusahaan tetap nggak nyaman dengan jawaban itu, ya berarti memang bukan tempatmu. Lebih baik tahu sekarang daripada tahu enam bulan kemudian sambil nangis di parkiran.
Satu trik kecil yang sering dilupakan
Sebelum interview, coba cari tahu siapa yang bakal nginterview kamu. Kalau ternyata dia juga orang tua muda, biasanya obrolannya bakal lebih cair. Bukan buat cari simpati, tapi buat nyesuaikan bahasa. Kadang cukup bilang "saya antar anak dulu ke sekolah pagi-pagi, jadi saya biasanya sudah online lebih awal" — dan itu langsung mengubah nada percakapan.
"Karier jadi melambat setelah punya anak. Itu normal nggak?"
Normal. Dan menurut gue, siapa pun yang bilang karier harus naik terus tanpa jeda itu belum pernah punya tanggung jawab beneran.
Tapi ada bedanya antara melambat dan berhenti. Melambat itu wajar — dua tahun pertama setelah anak lahir, energi kamu memang terbagi. Berhenti itu yang perlu diwaspadai. Tandanya simpel: kamu nggak belajar hal baru sama sekali, nggak punya rencana apa pun, dan tiap hari cuma bertahan.
Yang gue lakukan waktu karier gue melambat: gue nggak maksa naik jabatan, tapi gue jaga satu hal tetap jalan — relasi. Gue tetap rutin ngopi sama mantan kolega, tetap bales pesan orang yang nanya-nanya soal kerjaan, tetap update hal-hal kecil di industri. Nggak makan waktu banyak, tapi waktu gue siap naik lagi, jalannya masih ada. Banyak orang lupa, karier itu bukan cuma soal performa, tapi soal siapa yang masih ingat kamu.
"Anak sering sakit, kerjaan numpuk. Gimana ngatur ekspektasi atasan?"
Ini pertanyaan yang paling sering masuk, dan jawabannya agak nggak populer: atasan itu bukan pembaca pikiran. Kalau kamu nggak pernah cerita, dia bakal menganggap hidupmu selalu mulus.
Yang perlu kamu lakukan cuma satu: komunikasi lebih awal. Bukan pas hari-H kamu izin mendadak, tapi sebelum itu. Contoh kalimat yang bisa kamu pakai: "Pak, minggu ini anak saya lagi pemulihan, jadi saya mungkin agak fleksibel soal jam. Tapi laporan X tetap saya kirim hari Kamis." Lihat polanya? Kamu kasih tahu kondisinya dan kamu kasih jaminan hasilnya. Atasan yang waras bakal tenang.
Yang bikin masalah itu biasanya bukan izinnya, tapi caranya. Izin mendadak terus-terusan tanpa penjelasan itu yang bikin orang lain curiga. Tapi orang tua yang terbuka, rapi kerjaannya, dan nggak pernah menghilang tanpa kabar — hampir selalu dapat ruang.
Dan satu hal yang jarang dibahas
Kamu juga perlu punya satu orang di kantor yang tahu kondisi kamu. Bukan buat jadi tameng, tapi buat jadi orang yang bisa kamu titip kabar kalau kamu benar-benar nggak bisa dihubungi. Ini kelihatan sepele, tapi waktu anak gue demam tinggi dan gue harus buru-buru pulang, punya satu rekan yang bisa bilang "tenang, gue cover dulu" itu penyelamat banget.
Jadi, apa intinya?
Kerja di kota besar sambil ngurus keluarga kecil itu susah. Nggak usah pura-pura keren dan bilang "semua bisa diatur kalau niat". Kadang memang nggak bisa diatur, dan itu wajar.
Tapi dari semua pengalaman gue — gagal interview, kerja lembur yang nggak perlu, sampai hampir kehilangan momen anak tumbuh — satu hal yang paling nolong itu bukan jam kerja yang lebih pendek atau gaji yang lebih gede. Tapi kejujuran soal prioritas. Ke diri sendiri, ke pasangan, dan ke tempat kerja. Sisanya tinggal nyesuaiin, dan itu kerjaan seumur hidup.
Kalau kamu sekarang lagi di fase berat-beratnya, gue cuma mau bilang: kamu nggak sendirian. Dan nggak apa-apa kok pelan-pelan, yang penting jangan berhenti.